#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Klub dan Asosiasi Pemain Prancis Mulai Negosiasi Pengurangan Gaji Para Pesepak Bola
13 January 2021 11:41 WIB
KLUB-klub sepak bola Prancis memulai pertemuan dengan serikat pemain pada hari Selasa (12/1) untuk merundingkan pengurangan gaji bagi para pemain Ligue 1 dikarenakan konsekuensi ekonomi dari pandemi dan kegagalan hak televisi.

Ketiadaan penonton, penurunan para pengiklan dan, pada akhirnya, hilangnya pemasukan dari hak siar televisi setelah kepergian Mediapro, telah mempengaruhi keuangan klub-klub profesional Prancis.

Dalam beberapa kasus, ini menempatkan klub-klub posisi hampir bangkrut hingga meninggalkan satu-satunya jalan keluar adalah dengan mengurangi jumlah gaji pemain mereka.


Baca Juga :
- Resmi, Liga Prancis Berakhir karena Wabah Corona
- Pemain Afrika Jadi Sorotan pada Laga Amiens versus Nantes

Presiden Direktorat Nasional Pengendalian Manajemen Klub-klub di Prancis, Jean-Marc Mickeler, memperkirakan dalam surat kabar "L'Équipe" kerugian di Ligue 1 pada akhir musim ini sebesar 800 juta euro – sekitar Rp13,7 triliun, dan menekankan: "Tanpa pemotongan gaji yang drastis, kondisi saat ini tidak akan bertahan."

Klub internasional lainnya, seperti FC Barcelona dan Real Madrid di Spanyol, telah mengambil tindakan dan mengurangi gaji pekerja dan pemain mereka.

Menurut Mickeler, pengurangan 30% akan menyeimbangkan akun tim, yang harus membayar 780 juta euro setahun sebagai gaji para pemain profesional di musim 2018/19.

Salah satu perwakilan dari tim yang bertemu dengan serikat pekerja hari itu adalah presiden Stade de Reims, Jean Pierre-Caillot, yang meyakinkan dalam sebuah wawancara dengan "Le Monde" bahwa pendapatan klubnya dari tiket adalah nol!

Caillot menambahkan penarikan hak televisi Mediapro telah meninggalkan lubang sebesar 600 juta euro di Ligue1, yang dalam kasus Reims dan klub lain mewakili hampir 60% dari anggaran mereka, sementara gaji pemain rata-rata mencapai 54%.

Dengan mundurnya Mediapro, Ligue1 awalnya berharap Canal + akan mengajukan tawarannya, tetapi pada gilirannya otoritas liga beralih kepada Pemerintah untuk terlibat dalam pengelolaan hak sepak bola.

“Beruntung, serikat pekerja hidup di dunia yang sama dengan kami, bisa memahami bahwa menurunkan upah adalah satu-satunya pilihan yang tersisa," kata Caillot, meyakini.

Bahkan, tim bersejarah seperti Girondins de Bordeaux, pun tidak bisa mengelak dari efek pandemi yang genting ini.

Menurut media lokal, klub itu berencana memberhentikan sejumlah karyawan untuk mengimbangi defisit, diperkirakan sampai sekarang telah mencapai jumlah 67 juta euro – sekitar Rp1,1 triliun, yang bisa naik jadi 80 juta euro sekitar Rp1,4 triliun – di akhir musim.


Baca Juga :
- Keluarga Jadi Alasan utama Koscielny Memilih Bordeaux
- Stephanie Frappart Akan Jadi Wasit Wanita Pertama di Ligue 1

Klub-klub lain memilih beragam cara untuk bertahan hidup di tengah situasi pelik ini,  seperti yang telah dilakukan Lyon dan yang akan dilakukan Montpellier.

Mereka memutuskan untuk mengambil alih hak milik stadion mereka, yang sebagian besar dimiliki oleh pemerintah kota, lalu kemudian menyewakannya untuk event-event olahraga atau konser sebagai sarana tambahan pemasukan.

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA