#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Vespa Pink, Jari-jari Menari hingga Doping Maradona
28 July 2020 17:42 WIB
Vespa Bajaj  jadi teman setia. Lenteng Agung-Jatinegara- terus ke Senayan. Rute itu saya tempuh dengan motor berwarna pink. Hampir setiap hari, rutin. 

Motor racikan India itu jadi saksi perjalanan karier saya menyelami dunia jurnalistik. Berawal dari tabloid Tribun Olahraga di Jatinegara, Jakarta Timur. Tabloid olahraga pertama di Indonesia yang lahir pada 1984.  Anak dari koran harian sore Suara Pembaruan yang berada di Cawang, Jakarta Timur.

Saya banyak belajar dari sana pada 1990. Persisnya saat memasuki semester kedua di kampus tercinta IISIP. Redpel Ponco Siswanto dan Soemardjo (keduanya almarhum) memberi saya ruang untuk belajar menulis.


Baca Juga :
- Samir Nasri Bongkar Skandal Doping di Sevilla
- Kecanduan Alkohol, Maradona Akan Diseret ke Pengadilan oleh Putrinya

Saya tipikal orang yang tidak doyan dicekoki teori. Kuliah kabur-kaburan demi mengejar pengalaman di lapangan. Jelang ujian saya pakai 'SKS' atau sistem kebut semalam. Beres..!

Masih segar dalam ingatan. Hanya saya dalam satu kelompok 3 jurnalistik yang kuliah sambil kerja. Selain organik di Media Indonesia, saya juga freelance di beberapa media. 

Tujuannya: cari uang untuk bayar kuliah. Waktu itu Rp 450 ribu per semester.  Masih terjangkau.  Tiap bulan saya tabung Rp 75 ribu hingga 6 bulan dari uang gajian yang lumayan.

Risiko cape, itu pasti. Berangkat pagi pulang dini hari. Belum lagi jika ada liputan  keluar kota. Tapi saya nikmati. Saya juga tidak terlalu bebal untuk lulus S1 dalam 4,5 tahun. Meski pakai absensi khusus.

"Maradona dan Dop".  Itu judul opini pertama saya sebagai freelance di Tribun Olahraga pada 1991.  Maradona diagungkan di Napoli. "Si Tangan Tuhan' mengantar Napoli juara Seri A 1987 dan 1990.

Kariernya kemudian menurun setelah ia kecanduan barang haram. Maradona terbukti menggunakan doping pada 1991. Dia dilarang bermain sepak bola selama 15 bulan. Setelah bebas, ia comeback bersama Sevilla. Namun dipecat setahun kemudian.

Sebagai pemula, tentu bangga tulisan saya dimuat di media. Honor pertama habis untuk traktir teman-teman kos di sebelah kampus. Kami menyebutnya Pentagon. Tapi bukan Pentagon markas besar Departemen Pertahanan AS yang dibangun pada saat Perang Dunia II.  

Ini Pentagon kongkow-kongkow Kelompok 3 jurnalistik angkatan 1989. Di sana kami bikin majalah kampus: Dinamika. Umurnya memang pendek. Tapi dari sanalah kita belajar dan berbagi pengalaman. Dari sana saya terlihat antara teori dan praktek.

Bahkan tulisan Maradona dan Doping  itu yang mengantar saya kenal dengan Jois, wanita Manado yang ujuk-ujuk bersurat kepada saya. 

Belakangan saya tahu, dia ingin kenalan karena tertarik dengan tulisan saya. Tulisan pertama, penggemar pertama. Semangat menulis makin bergairah.

Cita-cita saya sederhana: anak betawi yang ingin keliling nusantara. Perlahan tapi pasti. Beruntung, saya berhasil mewujudkannya. Bahkan hingga menyentuh bibir Asia dan Eropa.

Tentu prosesnya panjang. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bermodal mesin ketik, jari-jari ini menari hampir setiap hari. Pagi, siang bahkan malam. 

Dulu komputer barang langka. Tidak seperti sekarang mewabah. Cari tempat yang difasilitasi hotspot internet tidak susah. Bermodal beli segelas minuman segar free internet.

Dulu, banyak sekali kertas HVS lecek di tempat sampah. Salah sedikit, langsung saya sobek, dan buang. Mesin bermerek Royal itu pula acap saya bawa ketika tugas liputan keluar kota.

Vespa pink terus mengukur jalan, meski kadang tanpa tujuan. Tapi itulah kehidupan,  harus terus berjalan. Roda terus berputar.

Pada 1993 saya mendapat tugas meliput Basketball Merlion Cup di Singapura. Indonesia diwakili tim Aspac. Ketika itu tim Aspac dilatih Abdurrahman Padang dan manajer Irawan Haryono. 

Aspac di antaranya diperkuat pemain nasional  AF Rinaldo, Mohamad Rifky, Tri Adnyana Adiloka, Fictor Roring dan Suko Daryono.

Lima pemain negro juga diangkut. Bobby Parks yang pernah bermain di NCAA jadi bintang lapangan. Draft NBA 2984 ini juga pernah bermain di liga profesional Filipina.

Final Aspac vs tim Cina yang diproyeksikan untuk Asian Games 1994. Posturnya tinggi besar. Secara skill dan teknik di atas rata-rata. Mereka sempat unggul.

Awalnya Momon- sapaan Abdurhman Padang-- menurunkan dua pemain asing. Tapi melihat lawan terlalu tangguh, semua pemain lokal ditarik ke bench. Aspac akhirnya bangkit. Permainan berimbang. Tapi Aspac akhirnya keluar sebagai juara. Skor akhir saya lupa.

Kami pulang ke Jakarta dengan senang. Kehidupan normal kembali dimulai. Berangkat pagi pulang dini hari. Kadang melanjutkan bikin berita dari kos-kosan hingga tertidur di atas mesin ketik.

SEA Games Chiangmai, Thailand 1995 tugas yang tidak ringan.  Kantor hanya mengirim saya sendiri.  Melelahkan itu pasti.  Lebih dari 40 cabang olahraga di pertandingkan. 

Butuh perhitungan matang. Butuh strategi jitu dalam liputan. Tiap hari harus cermat membaca jadwal pertandingan dan peluang medali. Menghitung waktu dan jarak antar venue juga bagian strategi liputan.

Tidur pasti tak pernah nyaman. Bahkan saya pernah bermalam di MPC (Main Press Center). Pulang pagi ke hotel cuma ganti baju. Mata masih sepet, langsung liputan lagi. Sialnya kalau dapat liputan yang jaraknya jauh dan Indonesia berpeluang meraih emas. Wajib dikejar..!

Rendang selalu jadi andalan saat tugas keluar negeri. Termasuk saat saya meliput Piala Eropa 2004 di Portugal, Piala Dunia Jerman 2006, Piala Eropa 2008 di Swiss dan Austria serta Piala Eropa 2012 di Ukraina dan Polandia. 

"Rendang, Anda pasti dari Indonesia. Saya suka," begitu wartawan bule menyapa saat saya makan di tengah liputan. 


Baca Juga :
- Gegara Remaja Cina, Geger Olahraga Pakai Masker
- Rosario vs Buenos Aires, Messi vs Maradona dan Bintang Lainnya yang Lahir di Kedua Kota Argentina Ini

Rendang dan rokok acap jadi perantara perkenalan dengan wartawan asing. Dari sana saya dibantu wartawan Belanda bertemu  legendaris Johan Cruyff di Stuttgart. Ketika itu saya mengintip timnas Belanda latihan. Saya juga sempat bincang singkat dengan Arjen Robben dan pemain lainnya.**

Salam olahraga!

BERITA TERKAIT

Penulis
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA