#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Merebut Istri Rekan Setim, Dibenci Lionel Messi, dan Disebut Pengkhianat oleh Maradona! Mauro Icardi Jadi Pemain Sepak Bola Paling Kontroversial
03 June 2020 07:26 WIB
MAURO Icardi telah mempermanenkan kontrak dengan Paris Saint Germain setelah klub Prancis itu membayar 52 juta paun (Rp942,5 miliar) kepada FC Internazionale.

Keputusan ini diambil Les Parisiens setelah terkesan dengan performa meyakinkan striker asal Argentina itu pada awal kiprahnya sebagai pinjaman dengan mencetak 20 dalam 28 laga pertama di seluruh kompetisi musim ini sebelum wabah Corona melumpuhkan sepak bola.

Tapi, masa lalu pemain 27 tahun tersebut yang sarat kontroversi memunculkan kekhawatiran bahwa PSG telah melakukan kesalahan saat memutuskan untuk membelinya.


Baca Juga :
- INFOGRAFIS: Atalanta dalam Trek Persaingan Scudetto dengan Juventus
- Bukan Roma! De Rossi Justru Impikan Latih Tim Ini

Dari segi penampilan, Icardi jelas sensasional karena dia mampu memainkan peran yang sangat penting di lini depan Les Parisiens yang sudah diisi oleh bintang-bintang kelas dunia seperti Neymar Junior dan Kylian Mbappe. Performa itu pula yang membuat top scorer PSG sepanjang masa, Edinson Cavani, tergusur ke bangku cadangan.

Tapi, Icardi punya reputasi sebagai pemain yang sering membuat masalah di luar lapangan yang merugikan klub-klub yang pernah dia bela sebelumnya. 

Sampdoria, khususnya Maxi Lopez, adalah korban dari ulah kontroversial Icardi. Striker kelahiran Rosario itu direkrut I Blucerchiati dari akademi Barcelona, La Masia, pada 2011 yang memungkinkannya bermain bersama rekan senegaranya, Lopez, yang saat itu telah menikah dengan Wanda Nara. 

Lewat Lopez pula, Icardi mengenal Wanda hingga akhirnya mereka terlibat perselingkuhan. Skandal itu membuat hubungan Lopez dengan Icardi memburuk dan Inter memberi jalan keluar bagi Icardi dengan merekrutnya pada Juli 2013. Lima bulan kemudian Lopez menceraikan Wanda.

Setahun kemudian, Lopez dan Icardi kembali bertemu saat Sampdoria menjamu Inter di Luigi Ferraris, pertandingan yang kemudian dijuluki Wanda Derby. Saat itu Lopez menolak berjabat tangan dengan Icardi jelang kick-off.

Saat itu, Icardi dan Wanda telah bertunangan dan saling membuat tato nama masing-masing pada pergelangan tangan mereka. Keduanya juga sempat membuat kehebohan di Twitter dengan saling menyampaikan pesan dengan tagar #Quindicina yang diyakini merujuk pada fakta bahwa mereka pernah bercinta sebanyak 15 kali dalam waktu 28 jam. Icardi juga telah tinggal bersama dengan Wanda dan ketiga anak dari pernikahannya dengan Lopez.

Tapi, insiden jabat tangan itu baru permulaan. Icardi yang dicemooh suporter Sampdoria sepnjang pertandingan, mencetak gol di menit ke-13 untuk membawa Inter unggul dan dia membuat provokasi dengan melakukan selebrasi di hadapan suporter I Blucerchiati.

Lopez sempat punya peluang emas untuk menyamakan skor saat menjadi eksekutor hadiah penalti yang diperoleh Sampdoria lima menit kemudian. Tapi, tendangannya melenceng. Inter pun pulang membawa kemenangan 1-0 berkat gol semata wayang Icardi.

“Jika dia (Icardi) terus bermain seperti itu dan kami bisa menghilangkan beberapa ulahnya yang berlebihan, dia bakal jadi pemain hebat,” kata pelatih Inter saat itu, Walter Mazzari. “Hingga terciptanya gol itu, dia bersikap sempurna. Dia seharusnya langsung kembali bergabung bersama kami usai mencetak gol itu dan tidak melakukan ulah tersebut.”

Kini, Wanda telah menikah dengan Icardi sekaligus menjadi agen yang menangani kontrak dan negosiasi transfer suaminya. Sejumlah orang meyakini bahwa hubungannya dengan Wanda telah menghambat karier Icardi di tim nasional Argentina hingga saat ini. 

Lopez yang dianggap sebagai korban perselingkuhan Wanda dan Icardi mendapatkan banyak dukungan di Argentina termasuk dari kapten Tim Tango, Lionel Messi. Kabarnya, La Pulga pula yang memblok karier Icardi di timnas. Legenda Argentina, Diego Maradona, bahkan pernah menyebut Icardi sebagai “pengkhianat.”

Pada Oktober 2016, Icardi yang saat itu sudah diangkat sebagai kapten Inter, menandatangani kontrak jangka panjang dengan klub itu yang bernilai 4 juta paun (Rp72,3 miliar) per tahun. Tapi, pada pekan yang sama, dia menyulut kemarahan suporter garis keras I Nerazzurri dengan mengkritik mereka di sebuah buku. Kelompok suporter ini pun menuntut Icardi dicopot dari jabatan kapten, tapi dia tetap bertahan.

Keberadaan Wanda yang merupakan mantan model, juga membuat Icardi selalu menjadi sorotan media. Pada April 2017, wanita yang kini berusia 33 tahun itu membuat pernyataan kontroversial dalam wawancara dengan majalah Gente dengan mengklaim dirinya sebagai “satu-satunya istri yang menghasilkan uang buat suaminya dan telah mendongkrak nilai jual suaminya dari 14 juta euro (Rp226 miliar) menjadi 250 juta euro (Rp4,035 triliun).” 

Wanda juga sering memunculkan ketidakpastian soal masa depan Icardi di Inter dengan menyebut suaminya nyaris direkrut Juventus pada musim panas 2018 sebelum mereka membeli Cristiano Ronaldo serta mengisyaratkan transfer suaminya ke London, Paris, atau Madrid.

Pada akhir 2018, saat Inter mengangkat Beppe Marotta sebagai direktur olahraga yang baru, klub itu dikabarkan ingin mengikat Icardi dengan kontrak lebih lama lagi. Pada saat yang sama koran Corriere dello Sport membuat judul headline“House of Icardi” di halaman muka dengan menyamakan Wanda dengan Claire Underwood, tokoh dalam film serial televisi House of Cards, yang punya sikap tegas bahkan terkadang kejam.

Situasi Icardi di Inter menjadi lebih buruk pada 2019 lantaran serangkaian kasus yang berujung dengan penyingkirkan pemain itu dengan dipinjamkan ke PSG. Semua itu bermula dari berita di sejumlah media pada Januari 2019 yang menyebut Inter sudah bosan berurusan dengan Wanda yang sulit diajak kompromi dalam negosiasi perpanjangan kontrak Icardi.

Buntutnya, Icardi dicopot dari jabatan kapten Februari dan dicoret dari daftar pemain Inter dalam laga Liga Europa lawan Rapid Wina.

“Ini keputusan yang sulit dan menyakitkan. Kita semua tahu peran pentingnya,” kata pelatih Inter saat itu, Luciano Spalletti. “Kami mengambil keputusan ini bersama-sama dengan seluruh komponen klub dan keputusan ini dibuat demi kebaikan Inter dan tim. 

“Ada sejumlah hal terkait pemain itu yang harus dibereskan. Dia kecewa, dia kesal. Sulit bagi kami memberitahukan ini kepada dia. Hal-hal seperti ini membuat malu tim dan klub.”

Icardi sempat tidak dimainkan hingga 3 April 2019 saat dia mencetak satu gol dalam kemenangan 4-0 atas Genoa di Seri A. “Kasusnya telah ditutup,” kata Spalletti saat itu. “Kini, dia harus berlatih, memeras keringat, dan tidak lagi berbicara melalui orang lain.”

Tapi, Spalletti kemudian dipecat pada musim panas tahun itu dan Antonio Conte yang diangkat sebagai penggantinya menegaskan dirinya tidak menginginkan Icardi dalam timnya. Sang pemain pun balik menyerang dengan menggugat Inter ke pengadilan dengan tuduhan diskriminasi dan menuntut ganti rugi 1,5 juta euro (Rp24 miliar).

Icardi mengklaim wajahnya dicopot dari iklan-iklan Inter dan tidak dilibatkan dalam sesi foto tim untuk musim 2019/20. Dia juga dikeluarkan dari grup WhatsApp tim dan tidak lagi diizinkan memakai nomor punggung 9 yang telah diberikan kepada Romelu Lukaku.


Baca Juga :
- Antonio Conte Tidak Ingin Inter seperti Lazio yang Kalah dalam Dua Laga Beruntun
- Pemain Brasil Memang Dididik untuk Mata Duitan! Neymar Contoh Kasus Paling Sempurna

“Ini bukan masalah uang. Yang penting bagi Icardi adalah menjadi bagian integral dari rencana Inter,” ujar pengacara Icardi, Giuseppe Di Carlo, kepada Sport Mediaset soal gugatan tersebut. 

Tapi, beberapa hari kemudian Icardi akhirnya dilepas Inter ke PSG sebagai pinjaman selama semusim sebelum akhirnya kontrak itu dipermanenkan. Keputusan membeli Icardi dengan harga 52 juta paun di tengah krisis yang disebabkan wabah virus Corona adalah bukti kehebatan pemain itu dalam mencetak gol. Tapi, apakah hubungan Icardi dengan Les Parisiens akan berakhir mengecewakan seperti yang terjadi dengan Sampdoria dan Inter? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA