#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Wanda Nara, sang Playmaker
02 June 2020 13:07 WIB
KETIKA FC Internazionale membuat jarak satu langkah dari Wanda Nara, ketika  itu pula I Nerazzurri sudah lima langkah jauhnya dari Mauro Icardi. Saat Juventus atau Arsenal tidak cepat bereaksi, Wanda sudah berhasil merampungkan kontrak baru yang permanen dengan Paris Saint Germain (PSG).

Dialah yang membangunkan Icardi di pagi hari, membuatkan secangkir kopi, ikut mempersiapkan sarapan bukan hanya bagi suaminya melainkan juga bagi kelima anak-anaknya. Tiga anak dari hasil pernikahannya dengan Maxi Lopez, mantan suaminya, dan dua anak hasil cintanya dengan Icardi.

Mereka, bertujuh, adalah keluarga yang hampir setiap pekan selalu muncul di media sosial. Dalam kesehariannya mempersiapkan kebutuhan rumah tangga, telepon genggamnya nyaris tidak pernah berhenti berdering.


Baca Juga :
- INFOGRAFIS: Atalanta dalam Trek Persaingan Scudetto dengan Juventus
- Antonio Conte Tidak Ingin Inter seperti Lazio yang Kalah dalam Dua Laga Beruntun

Terkadang telepon dari adiknya, Zaira Nara yang menanyakan kabarnya sampai telepon dari beberapa klub. Apalagi, jelang musim berakhir dan ketika status pinjaman Icardi di PSG selesai, semua detail tidak pernah terlewat oleh wanita 33 tahun ini.

Ya, Wanda hampir melakukan semua. Bagi sebagian staf klub seperti di Inter, Wanda adalah wanita besi. Inter bahkan pernah merasa gerah jika harus mengurus soal Icardi karena ujung-ujungnya yang harus mereka hadapi dan ajak bicara adalah Wanda Nara.

Wanda mampu melakukan semuanya, berada di tiga dunia yang berbeda. Sebagai ibu, kekasih, dan juga agen atau manajer dari Icardi. Ketika Icardi resmi menandatangani kontrak sebagai pemain PSG secara penuh pada 31 Mei lalu, saat itulah Wanda berhasil sebagai agen pemain (suaminya).

Kabar tentang transfer Icardi ke PSG menjadi salah satu berita penting dalam semua isu sepak bola Eropa pada hari itu. Pada akhirnya, semua harus mengakui bahwa Wanda Nara wanita hebat di dalam dunianya.

Mungkin saja, selama ini banyak yang menyepelekan kemampuan Wanda sebagai manajer atau agen pemain. Atau, mungkin pula, sepak bola secara umum hanya sedikit memperhitungkan peran Wanda dari aspek kemampuannya dalam bernegosiasi.

Kontrak Icardi dengan PSG memiliki nilai 10 juta per musim untuk empat tahun ke depan. Itu merupakan jumlah yang dua kali lipat daripada yang diterima suaminya di Inter sebesar 5,7 juta.

Masih ingat pada awal musim lalu ketika kabar tentang Inter begitu banyak didominasi oleh kisruh negosiasi antara Icardi (Wanda) dan manajemen I Nerazzurri. Saat itu, Icardi yang diwaliki oleh Wanda meminta Inter menaikkan gaji yang nilainya seperti yang dimintanya kepada PSG saat ini.

Inter menolak hingga akhirnya mereka pun memutuskan untuk meminjamkan Icardi ke PSG. Kini, Wanda mendapatkan 10 juta euro itu dari PSG. Semua berjalan sesuai dengan keinginan Keluarga Icardi.

Jika ada alasan mengapa dan bagaimana Wanda mampu menjalani semua ini, tiada lain itu adalah karena kekuatan cinta yang berharga yang memang pantas diperjuangkan dan dipertahankan. Itu saja.

Rasa cinta itu ada karena Icardi memang istimewa. Jadi, mari kita lihat apa yang istimewa dari Icardi. Dia adalah penyerang 27 tahun yang salah satunya diingat sebagai mesin gol yang sangat sulit mendapatkan tempat dalam timnas Argentina.

Bukan rahasia umum bahwa semua kendala tersebut karena stigma bahwa dia adalah perebut istri dari sahabatnya sendiri, Maxi Lopez. Ulah Icardi ini yang membuatnya memiliki noda hitam di antara pemain Argentina, termasuk dari megabintang dunia, Lionel Messi yang justru merupakan sahabat dari Lopez.

Namun, itu adalah cerita dari satu sisi. Untuk melihat Icardi, sosok ini pun sudah menjalani perjalanan karier yang aneh, sejak dari kecil. Juan yang merupakan ayahnya, adalah asli Rosario yang pindah ke Katalunya saat Icardi masih berusia lima tahun.

Si kecil Icardi tumbuh dengan baik hingga kemudian berkembang, memiliki naluri sebagai penyerang. Icardi memiliki sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan yang lain.

Posturnya tinggi, solid, dan cepat. Dia sudah memiliki naluri gol dalam pertumbuhannya.

Dalam usia 15 tahun, Barcelona membawanya ke La Masia. Fase tersebut seiring dengan munculnya Josep Guardiola, sang Maestro sepak bola menjadi pelatih Los Azulgrana.

Dengan situasi tersebut, wajar jika kemudian ada bayangan bahwa dia akan memiliki kesempatan masuk ke tim senior dan menjadi bintang di Barca. Apalagi, Icardi mampu mencetak 38 gol dalam level cantera (usia muda) saat usianya bahkan belum menginjak 17 tahun.

Meski demikian, semua tidak berjalan seindah bayangan. Ada sesuatu hal kecil tapi prinsip yang membuat Guardiola ragu terhadap karakteristik Icardi.

Mungkin, hal yang tidak membuat Guardiola yakin adalah dia memang tidak menyukai karakter penyerang tengah yang “statis”. Pep lebih menyukai penyerang yang sulit untuk diprediksi lawan. Icardi bukanlah tipikal penyerang yang masuk dalam kategori Pep, salah satu maestro tiki taka.

Karena itulah, Pep setuju ketika Barcelona memutuskan untuk menjual Icardi. Kisah Icardi kemudian justru berawal di Sampdoria. Di klub asal Italia inilah Icardi dalam usia 19 tahun tampil dalam debutnya di Seri A dengan mencetak 10 gol, dua di antaranya ke gawang Juventus.

Gol ke gawang Juventus pun membuat Inter mulai tertarik, meski transfer itu belum diwujudkan. Dalam usia 22 tahun, dia kemudian menjadi pencetak gol terbanyak Seri A dengan 22 gol, gelar yang diraihnya juga bersama Luca Toni.

Icardi tidak kemudian menghilang dari peredaran status mesin gol, karena beberapa musim kemudian saat bergabung ke Inter, dia kembali menjadi pencetak gol terbanyak dengan 29 gol, kali ini berbagi dengan Ciro Immobile.

Dengan jumlah tersebut, Icardi menjadi pemain pertama dalam sejarah Inter yang mencapai jumlah tersebut sejak Antonio Valentino Angelillo pada 1959.

Karakteristik Icardi tidak pernah berubah. Sebagai penyerang, dia termasuk mesin gol yang memilih cara bermain tradisional. Sebut saja penyerang yang pergerakannya hanya lebih banyak di jantung pertahanan lawan.

Penyerang tradisional di sini hanya untuk membedakan dirinya dengan sejumlah penyerang modern yaitu seperti Harry Kane, Edin Dzeko, atau Roberto Firmino. Itulah gambaran tentang Icardi.

Meski demikian, dari semua karakteristik tersebut, Icardi hanya lebih banyak dikenal sebagai pejantan yang merebut istri dan anak sahabatnya. Namun, penilaian itu hanya dari satu sisi.

Wanda dan Icardi tahu betul konsekuensinya. Meski demikian, inilah hidup yang mereka pilih dan tidak semua tahu apa yang pernah terjadi pada masa-masa sulit ketika Wanda masih bersama Lopez.

Wanda selalu menyatakan bahwa dirinya sudah kehilangan kepercayaan kepada Lopez karena ketika masih bersama, suaminya itu selalu mengkhianatinya, bahkan dengan pembantu rumah tangga.

Dalam situasi kehidupan Wanda Nara yang sulit itulah, Icardi muncul. Itulah akhir cinta segitiga di antara mereka. Pada akhirnya, tidak ada yang berhak menghakimi atas keputusan keduanya besama-sama mengarungi dinamika tentang keluarga, cinta, dan sepak bola.


Baca Juga :
- Pemain Brasil Memang Dididik untuk Mata Duitan! Neymar Contoh Kasus Paling Sempurna
- Bocah Afrika Sebatang Kara yang Menyeberang ke Eropa Menggunakan Perahu, Musa Juwara Kini Jadi Bintang Masa Depan Bologna

Belum lama ini, Maxi Lopez kerap memperihatkan foto dirinya dengan kekasihnya, Daniela Christianson, seorang model. Sementara Wanda, Icardi, dan kelima anaknya pun memilih berlibur di suasana pedesaan untuk merayakan keberhasilan kontrak dengan PSG.

Wanda, sang playmaker yang mengurus segalanya, membutuhkan rehat sebelum bersama Icardi kembali bertarung menghadapi musim kompetisi 2020/21.*

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA