#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
HISTORI
Sektor Z dalam Tragedi Berdarah Heysel 35 Tahun Silam
29 May 2020 22:51 WIB
MERAH dan hitam, warna warna resmi dari logo final Piala (Liga Champions) 1985 antara Liverpool vs Juventus dengan gambar trofi di tengahnya. Namun warna tersebut seperti memberikan tanda akan ada sesuatu yang terjadi pada pertandingan yang digelar di Stadion Heysel, Belgia.

Kedua warna tersebut hanya warna, tapi setelah semuanya berakhir, setiap kali melihat logo resmi, itu adalah warna darah. Tragedi yang tidak akan pernah dilupakan, peristiwa di sore hari ketika matahari akan terbenam, 35 tahun lalu, telah menimbulkan korban di antara kedua suporter yang kemudian dikenal dengan Tragedi Heysel atau Heysel Stadium Disaster.

Pada 35 tahun silam atau 29 Mei 1985, sebelum matahari terbenam atau sekitar satu jam sebelum pertandingan dimulai warna kuning matahari menyorot tribune Z, yaitu tribune di antara dua tribune suporter Liverpool dan Juventus.


Baca Juga :
- Menang lawan Brighton, Van Dijk Malah Marah-Marah dan Sebut Para Pemain Liverpool Pemalas
- INFOGRAFIS: Atalanta dalam Trek Persaingan Scudetto dengan Juventus

Tribune tersebut sengaja dikosongkan untuk memisahkan kedua pendukung klub asal Inggris dan Italia tersebut. Tribune itu kemudian juga digunakan khusus untuk penonton netral dalam hal ini mereka yang berasal dari Brussel atau Belgia.

Meski demikian, batas antara tribune Z dan pendukung Liverpool hanya dipisahkan dengan pagar kawat yang disimpul dengan tiang besi. Pers Eropa kemudian menyebut pagar itu seperti chicken wire fencing (pagar kandang ayam).

Dan, seperti yang sudah diduga, tribune yang seharusnya dikhususkan untuk pendukung netral tersebut justru malah dipenuhi oleh pendukung asal Italia. Mereka ada di tribune Z tersebut karena mampu membeli tiket masuk dari orang-orang lokal di Belgia.

Dapat dibayangkan, setelah sector (tribune) Z itu terisi penuh oleh kebanyakan orang Italia, ketegangan mulai terjadi. Mereka, pendukung asal Italia dan pendukung asal Inggris hanya dipisahkan “kawat pagar ayam”.

Tensi di antara suporter tersebut pun semakin tinggi. Dua suporter yang seharusnya dipisahkan lokasinya malah justru berdekatan. Hanya sejam sebelum final dimulai, seorang saksi mata seperti yang disampaikan dalam buku berjudul Sport around the World, History, Culture, dan Practise, melihat roket (benda kecil dengan api) dari tribune suporter asal Italia dilemparkan ke arah pendukung Liverpool.

Yang terjadi kemudian adalah pendukung di tribun fan Liverpool tersebut berlarian menghindari roket tersebut. Kepanikan pun terjadi. Dalam situasi itu pula, sejumlah fan Liverpool pun menghampiri mereka yang melemparkan roket tersebut.

Kepanikan semakin tinggi ketika kelompok suporter Liverpool berhasil memanjat kawat pembatas tersebut dan berhasil berada di sector Z tersebut. Pendukung Liverpool kemudian menyerang yang membuat sejumlah suporter Italia berlarian menghindari keributan tersebut.

Namun, dengan pagar yang tinggi dan menghalangi, tidak ada jalan keluar bagi mereka. Pendukung Liverpool kemudian terus menekan dan menggiring fan yang berada di Z tersebut hingga ke pembatas yang lain.

Sekitar 45 menit sebelum kick-off, pembatas lain di tribun Z pun runtuh karena tekanan dari kerumunan dan kepanikan tersebut. Momen itu kemudian membuat 39 nyawa melayang dan 600 orang terluka.

Harian Italia, Republica, menggambarkan keganasan pendukung Liverpool dengan kalimat: Gli inglesi si stavano spostando come una migrazione barbara. Atau orang-orang Inggris berkerak seperti sekelompk barbar yang bermigrasi. Mereka menekan dan berteriak.

Seperti Gelombang Manusia yang Naik dan Turun

Dari tribune lain, penonton menyaksikan apa yang terjadi di tribune Z, seperti sebuah gerakan bergelombang. “Kami mencoba melihat lebih baik, seperti ada sesuatu yang salah. Itu seperti orang-orang mengenakan pakaian merah bergerak ke arah orang yang mengenakan warna hitam dan putih,” kata saksi mata lainnya.

Seperti gerakan yang berbenturan. “Dengan mata telanjang saya tidak jelas melihat apa yang sebenarnya terjadi. Namun, seorang di samping saya melihat dengan teropong dan mengatakan ‘Mau ke mana mereka? Apa mereka gila,’” demikian orang yang melihat dari teropong itu mengomentari yang ada di tribune Z.


Baca Juga :
- Disebut Striker Super Egois, Mohamed Salah Terancam Dijadikan Cadangan dalam Laga Liverpool Berikutnya
- Liverpool Mungkin Merekrut Kembali Coutinho Jika Dia Minta Maaf Atas Kepindahannya ke Barcelona

Pada akhirnya, itu seperti melihat dokumenter gelombang tsunami, manusia bergerak meninggi dan menurun dan bergelimpangan. Tragedi Heysel,  di sektor Z, laga kemudian tetap digelar.

Ya, sebelum Juventus mengalahkan Liverpool dan tampil sebagai juara, sektor Z menjadi tragedi kelam dalam sepak bola. Kondisi tersebut terjadi jelas bukan hanya sekadar sikap suporter melainkan juga kurangnya pengamaman di dalam stadion.*

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA