#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Idul Fitri di Tengah Pandemi, dari Menpora hingga Karim Benzema
25 May 2020 15:02 WIB
SUARA takbir masih menggema. Haji Ngatijo yang mengumandangkan. Dia Ketua DKM musolah Al-Qolam di komplek saya tinggal, Permata Depok, Jawa Barat. Bergantian dengan Haji Kusnan. Saya dan warga lainnya juga ikutan. Sesekali ditingkahi suara mercon di udara dari pemukiman tetangga.

Allaahu akbar … allaahu akbar allaahu akbar… Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil-hamd…

(Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar. Tidak ada tuhan melainkan Allah, dan Allah maha besar, Allah maha besar dan segala puji bagi Allah).


Baca Juga :
- Makin Wani! Bonek Gerak Cepat Bantu Atasi Covid-19, Gugus Tugas Menilai Suporter Persebaya Itu Sudah Berubah
- Geoffrey Castillon Belum Memastikan Kapan ke Indonesia, Ini Alasannya

Indahnya lantunan gema takbir membuat hati bergetar. Inilah cara umat Islam menyambut hari kemenangan. Dalam kitab Fathul Qarib disebutkan bahwa disunahkan untuk menggemakan takbir pada malam Hari Raya.

Air mata tak terasa menetes di wajah. Gema Idul Fitri masih ada. Walau tidak seperti tahun sebelumnya. Kali ini agak berbeda. Satu sama lain harus diatur jaraknya. Tak boleh berdekatan. Social distancing, sesuai protokol pemerintah.

“Ada anak-anak nggak Pah di musolah?,” anak bungsu saya, Azkia Zahwa Nisa bertanya lewat pesan WhatsApp.

Hati terenyuh untuk menjawabnya. Setelah saya membalas pesannya dan menjelaskannya, dia hanya bisa bilang: oooh… sepi donk plus emoji sedih.

Setetes air mata tak terasa tumpah. Tak ada anak-anak di musolah. Mereka yang biasanya meramaikan, kini harus takbir di rumah.

Sudah tiga bulan mereka ‘dikarantina’. Tak bisa bermain dan bercanda dengan teman seusianya. Biasanya sibuk cari tempat untuk sholat tarawih. Kini, menjalankannya di rumah bersama keluarga. Saya bisa merasakan gejolak hatinya.

Suara gema takbir itu berhenti sekitar pukul 22.00 WIB. Haji Ngatijo dan Haji Kusnan mengunci musolah. Saya dan lainnya beranjak pulang ke rumah. Tapi, saya tetap terjaga. Tak bisa melepas lelah. Hati saya gelisah. Kepala bercampur aduk tak karuan. Tapi apa daya.

Saya masih mendengar takbir di hening malam. Tapi dari masjid atau musolah di luar komplek. Bahkan hingga sholat Subuh.

Perlahan Matahari menyambut 1 Syawal 1441 H. Kami siap-siap melaksanakan Sholat Ied. Tapi di rumah. Saya memakai baju koko yang lama. Istri dan anak juga begitu. Tak ada baju baru lebaran.

Kami tidak belanja ke pasar atau mall. Saya tak punya nyali berada di tengah kerumunan orang. Saya tak mau terdampak virus corona. Saya bersyukur anak-anak memahami situasi yang terjadi di luar sana. Mereka tak merengek minta ke Mall untuk belanja.

Salat Idul Fitri boleh dilaksanakan di rumah dengan berjemaah bersama anggota keluarga atau secara sendiri (munfarid), terutama jika ia berada di kawasan penyebaran Covid-19 yang belum terkendali," demikian bunyi pernyataan fatwa MUI dengan Nomor 28 Tahun 2020 mengenai salat Idul Fitri di rumah.

Ini mungkin momen langka. Sepanjang usia belum pernah jadi imam Sholat Ied. Hampir seminggu saya menghafalkan tata caranya. Pun surah yang harus dibaca. Saya menggores sejarah minimal untuk diri sendiri.

Selesai sholat Ied, dilanjutkan doa, takbir, dan salaman. Tidak terasa air bening merebak di sudut mata. Inilah pertama kali sholat Ied di rumah. Inilah hikmah dari pendemi virus corona. Menjadi imam, memperbaiki bacaan, menambah jumlah hafalan surah-surah Al Qur’an. Walaupun kadang dikoreksi oleh istri saya.

Tradisi kumpul-kumpul di depan musolah atau lapangan sirna. Minggu (24/5) pagi itu benar-benar sepi. Tak ada yang keluar rumah. Tak ada tamu yang mengetuk pintu.

Jalan di kompleks perumahan kami sunyi. Terasa ada yang hilang. Tahun-tahun sebelumnya, seusai sholat warga berkumpul di jalan depan musolah. Kami silaturahim, maaf memaafkan. Berfoto bersama. Tertawa lepas dalam canda. Setelah itu baru kami keluar komplek mengunjungi keluarga, kerabat, sanak saudara.

Disiplin physical distancing dan menghindari kerumunan tidak bisa ditawar di tengah pandemi virus corona. Merayakan lebaran  menggelar silaturahmi online atau virtual melalui video conference jadi opsi. Silaturahmi spiritual juga tidak mengurangi makna dan semangat perayaan Idul Fitri 1441 Hijriah.

Waktunya memang terbatas. Tak bisa leluasa. Tapi cukup seru. Bisa melepas rasa boring.  Sejarah akan mencatat kita. Diiringi lagu Lebaran ciptaan Ismail Marzuki pada 1950 sedikit menghibur hati. Meski udara panas dan pengap. Mata ini makin lelah.

Allaahu akbar … allaahu akbar allaahu akbar… Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil-hamd…

 

 

View this post on Instagram

Ucapan selamat Idulfitri 1441 H dari para tokoh olahraga nasional. #idulfitri #iedmubarrak #lebaran #skorindonesia

A post shared by Skor Indonesia (@skorindonesia) on May 24, 2020 at 2:30am PDT

Gema Takbir berkumandang di seluruh dunia. Memecah langit dalam kesunyian. Bintang bertaburan dan angin kecil lirih menyapa. Meski Idul Fitri 1441 H ini berbeda. Tapi tetap bergema di tengah dunia berduka karena wabah virus corona.

Menteri Pemuda dan Olahraga RI Zainudin Amali secara khusus mengucapakan Selamat Hari Raya Idul Fitri kepada insan olahraga Indonesia. Dia mengirim lewat video berdurasi 36 detik yang diterima topskor.id. 

“Biasanya kami sekeluarga ke masjid atau ke lapangan ikut sholat. Tapi hari ini saya jadi Imam sholat Idul Fitri dan jadi khotib sekaligus di rumah. Pokoknya beda dengan lebaran-lebaran sebelumnya dan sangat berkesan bagi saya,” kata mantan ketua Komisi II DPR RI ini.

Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman juga tak ketinggalan.  Mantan Kepala BIN ini mengajak praktisi olahraga tetap tegar dalam menghadapi virus corona. Tetap semangat dalam merayakan Idul Fitri walau dengan suasana berbeda. 

Pun atlet lainnya seperti Trianingsih (atletik), Risky Yanti alias Kijun (Persib Bandung Putri), Aji Santoso (pelatih Persebaya), Sandi Sute (Persija), Tantowi Ahmad (bulutangkis), Indriyanto Nugroho (Asisten Pelatih Timnas Indonesia U-16) hingga Indra Sjafri. 

Para atlet dunia seperti Mesut Ozil (Arsenal), Paul Pogba (MU), Karim Benzema (Real Madrid) juga merayakan Idul Fitri di media sosial. Mereka mengucapkan selamat Hari Raya kepada penggemarnya di seluruh dunia. Bahkan Ozil kirim pesan dalam bahasa Indonesia. 

Ucapan itu ia unggah di akun Instagram miliknya, m10_official setiap Idul Fitri. "Idul Fitri untuk semua Muslim di seluruh dunia."

"Semoga Allah memberkati Anda semua dengan kebahagiaan dan terus membimbing Anda di masa-masa sulit #StaySafe #StayHealthy."

Tidak sedikit unggahan Ozil di media sosial miliknya yang menunjukkan kedekatan dengan Islam.

Striker Real Madrid, Karim Benzema membagikan video dirinya di Twitter dan berharap 10,9 juta pengikut-nya "Eid Mubarak semuanya, semoga Tuhan memberkati semua orang".

Penyerang Liverpool Mohammad Salah mentweet gambar balon dengan tulisan "Eid Mubarak".

Moh Salah sempat tak puasa tahunan jelang penampilan final Liga Champions The Reds pada 2018. Tapi dia minta keluarganya mengorbankan tiga anak sapi untuk memberkatinya. 

Allaahu akbar … allaahu akbar allaahu akbar… Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil-hamd…


Baca Juga :
- Abdul Aziz: Tes PCR dan Protokol Kesehatan yang Terpenting
- Menpora Beri Bantuan Alat Kesehatan kepada Organisasi Mahasiswa

Semoga gema takbir di penjuru dunia pada Sabtu hingga Minggu, 23-24 Mei 2020 jadi pertanda perintahMu mengusir pandemi virus corona.

Saya yakin di balik musibah ada hikmah. Kita harus siap menjalani kehidupan era baru pasca corona. Tetapi tetap memperhatikan protokol kesehatan.*

BERITA TERKAIT

Penulis
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA