#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
HISTORI
Gol Mijatovic yang Mengubah Sejarah Real Madrid
20 May 2020 19:02 WIB
MADRID – Real Madrid tidak hanya mengalahkan Juventus melainkan juga mengambil sampanye dari ruang ganti La Vecchia Signora dan meminumnya bersama-sama. Semua dari Los Merengues di Stadion Amsterdam Arena, Belanda, bergembira.

“Ketika itu, kami sepertinya memang tidak siap untuk memenangkan gelar Liga Champions. Kami tidak membawa sampanye atau yang lainnya. Lalu, entah bagaimana mereka mengambil beberapa botol dari ruang ganti Juventus dan kami merayakannya,” kata Predrag Mijatovic, kepada harian olahraga Spanyol, MARCA, hari ini.

Pedja—demikian Mijatovic biasa dipanggil—mencoba mengenang kembali momen-momen bersejarah yang terjadi setahun lalu itu, tepatnya Rabu 20 Mei 1998, dalam final Liga Champions antara Juventus vs Madrid di Amsterdam.


Baca Juga :
- Ini 5 Situasi dari Transfer Mauro Icardi dari Inter ke PSG
- Cristiano Ronaldo: Selamat Tinggal Real Madrid, Selamat Tinggal Gelar Individu

Sampanye adalah sejenis minuman beralkohol rendah terbuat dari anggur dan menjadi tradisi orang Eropa merayakan sebuah pencapaian dengan meminumnya. Mijatovic sendiri tidak tahu pasti mengapa minuman milik Juventus tersebut tiba-tiba ada di antara mereka.

Meski demikian, sampanye menjadi indikator bahwa saat itu, Juventus merasa lebih siap menjadi juara sedangkan Madrid tidak.

Ketika itu, Juventus memang diunggulkan akan tampil sebagai juara. Klub Seri A (Italia) tersebut tampil ke final dengan memiliki rekor yang mengesankan di antaranya tampil sebagai juara pada dua mjusim sebelumnya.

Mereka mengalahkan Ajax Amsterdam dalam drama adu penalti pada 1995/96. Performa atau citra si Nyonya besar pun semakin kuat ketika mereka kembali tampil di final pada 1996/97. Namun, di final tersebut mereka kalah dari Borussia Dortmund.

Meski demikian, kegagalan itu tidak membuat Juventus tenggelam. Mereka kembali ke final dan gagal lagi kali ini lawan Madrid. Jadi, dalam tiga musim beruntun, Juventus yang memiliki bintang seperti Alessandro Del Piero berhasil ke final Liga Champions yang merupakan pencapaian istimewa.

Sebaliknya, Madrid datang dengan status tidak diunggulkan. Situasi tersebut tidak terlepas pula dari bahwa era tersebut adalah eranya klub-klub Italia. Faktanya, sejak 1991 saat itu, klub-klub Italia yang selalu tampil di final, mulai dari Sampdoria, AC Milan, hingga Juventus.

Karena itulah, sukses Madrid saat itu memang tidak terduga. Situasi itu semakin istimewa karena dengan gelar tersebut, Madrid berhasil mengakhiri penantian panjang mereka selama 32 tahun yang tanpa gelar Liga (Piala) Champions sejak kali terakhir meraihnya pada 1965/66.

Gol Onside

Wajar pula jika satu-satunya gol dalam final 20 Mei 1998 tersebut menjadi gol yang sangat istimewa dan dikenal dalam sejarah Los Merengues. Dan, gol itu adalah gol dari kaki Mijatovic. Momen itu terjadi pada menit ke-66. Bek Madrid, Roberto Carlos melepaskan tembakan yang kemudian mengenai bek Juve dan memantul.

Bola tersebut berhasil dikuasai Mijatovic yang kemudian membawanya ke sisi kanan gawang Juventus. Dengan kaki kirinya, bintang timnas Serbia Montenegro tersebut melepaskan tembakan dan masuk ke gawang.

Itulah satu-satunya gol yang tercipta dalam pertandingan tersebut yang kemudian mengubah sejarah Los Merengues di ajang Eropa. Meski demikian, setelah pertandingan, gol tersebut kemudian menjadi pemberitaan bahwa ada kemungkinan Pedja dalam posisi offside.

“Wajar jika klub yang kalah akan kecewa dan marah. Tapi, saya sangat tahu situasinya dan saya selalu mengatakan bahwa saya  tidak dalam posisi offside. Mereka (pemain Juventus), melakukan protes dan mereka meminta bahwa gol itu adalah offside,” kata Mijatovic lagi.

Itu merupakan gelar Liga Champions yang ketujuh dalam sejarah Madrid. “Angka tujuh itu menjadi sangat spesial dan salah satu pemain yang ada dalam sejarah tersebut,” kata Mijatovic lagi.


Baca Juga :
- Niatnya Bercerita tentang Perjuangan Bertahan saat Positif Corona, Gasperini Malah Dikecam Berbagai Pihak
- Sejarah LaLiga Pekan Ini: Empat Gol Negredo ke Gawang Calon Klub Hingga Malam Indah Barca di Berlin

Madrid yang saat itu di bawah kepelatihan Jupp Heynckes terdiri dari sejumlah pemain bintang. Di bawah mistar dalam final itu adalah Bodo Ilgner, di pertahanan terdiri dari Carlos, Fernando HIerro, Manuel Sanchis, Christian Panucci. Sedangkan Fernando Redondo bersama Clarence Seedorf dan Christian Karembeu.

Di lini depan ada Raul Gonzalez sebagai playmaker dalam pola 4-3-1-2 mendukung duet Mijatovic dan Fernando Morientes. Di barisan cadangan, ada sosok bintang lainnya seperti Davor Suker dan Savio.*

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA