#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Lini Tengah I Nerazzurri Lebih Garang daripada Juve
29 February 2020 11:05 WIB
MILAN – Ludogorets menjadi pemanasan FC Internazionale sebelum Derby d’Italia, Minggu (1/3) atau Senin dini hari WIB. Mereka lolos ke perdelapan Liga Europa berkat agregat skor 4-1. Hasil ini membuat pasukan Antonio Conte lebih percaya diri dan main lepas ketika berjumpa dengan Juventus di Allianz Stadium yang kosong.

Pelatih Inter tersebut sangat puas dengan rotasi yang dilakukannya pada dua laga terakhir. Semua pemain, baik yang  rutin jadi starter maupun cadangan, memberi jawaban senada. Conte pun siap menghentikan catatan buruk I Nerazzurri dalam derbi tersebut, di mana hanya menang sekali dari 14 pertandingan terakhir dengan Juve. Sukses satu-satunya dituai pada September 2016, 2-1. Sisanya mereka kalah 8 kali dan imbang 5 kali.

Conte menjadi satu-satunya allenatore Juve yang menundukkan Inter dalam dua pertemuan pertama, dalam periode 40 pekan Seri A terakhir. Kini dia siap menghentikan Maurizio Sarri untuk menyamai rekornya. Sebagai informasi, I Bianconeri memenangi duel pertama dengan Inter, 2-1, musim ini.


Baca Juga :
- Gagal di Juventus, De Ligt Dilirik MU
- Georgina pun Jadi Hairdresser Dadakan untuk Ronaldo

“Kami telah memulai siklus, hari Minggu nanti kami akan memainkan pertandingan penting, sampai akhir  Maret. Kami akan mengetahui apakah ada peluang untuk menang, kami punya ide jelas dan jalan yang harus ditempuh. Liga Europa? Sudah seharusnya klub seperti Inter berusaha mencapai yang tujuan terbaik di semua kompetisi, meski sudah cukup lama tim tidak juara. Siapa yang sudah pernah juara tahu betapa sulitnya perjuangan ini...,” ujarnya.

Dibandingkan Juve, Inter menunjukkan kemajuan pesat di semua lini, khususnya bagian tengah. Di sana, Suning menanamkan para gelandang terbaik untuk menjaga keseimbangan di berbagai fase. Marcelo Brozovic memimpin dari jantung sektor tersebut dan berperan sebagai playmaker. Nicola Barella, Matias Vecino, Ashley Young dan Antonio Candreva menyesuaikan pergerakan. Pendatang baru, Christian Eriksen, membuat irama makin laju.

Situasi berbeda dialami Juve yang kehilangan identitas dan tak lagi kejam. Barikade tengah merupakan bagian yang selalu dikritik setelah menelan kekalahan. Selalu muncul perbandingan dengan era Massimiliano Allegri yang sampai ke final Liga Champions 2015, dengan sektor itu diisi oleh Andrea Pirlo, Arturo Vidal, Paul Pogba dan Claudio Marchisio.


Baca Juga :
- Banyak Torehkan Rapor Positif, Lazio Segera Amankan Inzaghi
- Dengan Chiesa, Inter Dapat Main Menggunakan 3-5-2 dan 4-2-3-1

Sepertinya percampuran kualitas, kekuatan dan gol sulit bisa diulangi kembali sebab para gelandang saat ini tidak memiliki personalitas dan ide. Miralem Pjanic makin mundur dan berisiko kehilangan posisinya di tim inti. Performa Blaise Matuidi pun kurang memuaskan bagi Sarri. Sementara Rodrigo Bentancur sedang belajar menyesuaikan dengan siapa dia bermain. Aaron Ramsey dan Adrien Rabiot tidak memberi banyak pengaruh. “Sekarang kami harus membalikkan halaman dan memikirkan Inter, setelah itu mempersiapkan pertemuan kedua (Liga Champions),” ujar gelandang asal Wales itu.

Kali ini, Sarri tidak bisa bekerja dengan tenang. Desakan untuk berpisah muncul dari luar, sementara Presiden Andrea Agnelli menyatakan tetap percaya kepada juru taktik itu. Tapi pekerjaan pelatih tetap dimonitor di mana laga prestisius akhir pekan ini punya bobot besar dalam penentuan masa depannya.*** Dari berbagai sumber

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA