#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Perlukah Mencopot Semua Gelar Man City sejak 2014? Antara Konsekuensi dan Bisnis
17 February 2020 11:15 WIB
VONIS UEFA telah dijatuhkan dan Manchester City pun dilarang tampil di ajang Liga Champions untuk musim 2020/21 dan 2021/22. Klub yang dimiliki oleh taipan Timur Tengah Mansour bin Zayed Al Nahyan itu memang berada di posisi yang sangat lemah. Jika banding pun kemungkinan besar akan kalah.

Kesalahan Man City memang fatal. Demi mewujudkan sebuah tim super yang instan, mereka mengakali laporan keuangan. Biasanya, uang sponsor yang ditilep tapi ini malah di-mark-up. Etihad yang hanya memberikan 8 juta paun disulap jadi 68 juta paun. Kelebihan 60 juta euro itu adalah suntikan langsung dari sang pemilik klub.

Dengan laporan keuangan yang fantastis, Man City bisa membeli pemain yang diinginkan tanpa perlu takut ada ancaman melanggar regulasi Financial Fair Play (FFP). Ini memang jadi upaya sistematis yang dijalankan segenap manajemen klub untuk mewujudkan ambisi mereka.


Baca Juga :
- McGregor Tuding Cina Ambil Keuntungan dari Wabah Virus Corona
- INFOGRAFIS: Haaland Lebih Mematikan dibanding Mesin Gol Eropa Lainnya

Prinsip dari FFP sederhana saja. Pokoknya, klub jangan sampai tekor atau pakai uang sendiri terlalu banyak. Pemasukan bisa didapat dari berbagai sumber, salah satu yang cukup lumayan adalah sponsor. Celah inilah yang dimanfaatkan oleh Man City. Kini, Man City sedang repot menghadapi masalah baru yang timbul akibat sanksi ini.

Dampak di liga domestik sedang diantisipasi. Harapannya, pihak Liga Primer dan Football Association (FA) tidak membebani Man City dengan sanksi domestik yang sebenarnya logis. Soalnya, melanggar regulasi UEFA pastinya juga menerabas aturan di kompetisi domestik.

Spekulasi sudah mulai beredar. Paling ringan adalah pengurangan poin di Liga Primer saat ini. Bahkan, sudah banyak media yang memberitakan kalau Man City berpeluang besar dicopot semua gelar yang didapat sejak 2014. Soalnya, UEFA punya bukti kalau Man City telah sangat jelas melakukan praktik ini pada 2012-2016.

Tentunya, dampak itu berlaku hingga sekarang. Banyak pihak sangat menanti apakah lembaga otoritas sepak bola di Inggris mau atau berani menindak Man City dengan ekstrem. Beberapa pertimbangan pun muncul. Jika semua gelar Man City itu dicopot itu sama dengan kasus skandal di Seri A pada 2006.

Garis besarnya, Juventus, AC Milan, Fiorentina, Lazio, dan Reggina melakukan kecurangan dengan cara mengatur pemilihan wasit. Mereka ingin dipimpin oleh wasit yang bisa membantu di pertandingan. Bisa dibilang, ini praktik match fixing yang sesungguhnya. Hukumannya, mulai dari pengurangan poin hingga mendegradasikan Juventus.

Jika dibandingkan dengan Man City dalam konteks jenis pelanggaran, jelas terlihat sangat berlebihan jika harus sampai mencopot semua gelar Man City sejak 2014. Prinsipnya sederhana saja karena apa yang dilakukan Man City tidak berdampak langsung dengan hasil pertandingan.

Saat di lapangan, apa pun bisa terjadi. Man City memang punya banyak pemain hebat tapi apakah dengan itu mereka sertamerta jadi juara dimana-mana? Tentu tidak. Bahkan, sejak jadi milik taipan Arab itu, Man City belum pernah menjuarai Liga Champions. City Football Group mengakuisisi saham klub pada 2008 dan berapa banyak mereka jadi juara.

Gelar paling bergengsinya Liga Primer dan itu hanya lima kali yaitu pada 2011–12, 2013–14, 2017–18, dan 2018–19. Artinya, hukum klasik di sepak bola tetap tegak di Man City bahwa pemain bintang tidak otomatis membuat mereka jadi juara. Uang sangat bisa mendongkrak performa tim tapi belum tentu jadi juara.

Hadirnya Man City di papan atas Liga Primer dan meramaikan bursa juara dari musim ke musim juga kian melambungkan popularitas kompetisi paling hebat di dunia itu. Saat beberapa tim besar macam Manchester United, Chelsea, dan Arsenal melorot, The Cityzens konsisten berada di papan atas.

Secara bisnis, kehadiran Man City sangatlah menguntungkan. Man City telah jadi idola baru di era sepak bola modern. Josep Guardiola pun menyempurnakan masa emas Man City dengan penampilan atraktif di tiap laga. Tapi, itu semua bakal turun seiring jatuhnya sanksi ini.

Dengan sanksi UEFA ini saja sudah berdampak luar biasa bagi Man City. Josep Guardiola mau cabut dan beberapa pemain andalan pun lebih baik main di klub yang tampil di Liga Champions. Efeknya, Man City tak bisa lagi seperti ini. Popularitas pun anjlok dan Liga Primer pasti tak sesemarak dulu lagi.

Apa jadinya jika Liga Primer dan FA mencopot semua gelar Man City sejak 2014. Apalah jadinya mereka. Makin banyak lagi pemain bintang mereka yang pergi. Wajar, lantaran pasti ada rasa malu berada di klub yang telah berlaku curang. Ini contoh dua pertimbangan yang harus dipikirkan.


Baca Juga :
- Haaland Lebih Efektif dalam Mencetak Gol dibanding Penyerang Top di Liga Eropa Saat Ini
- Banyak Torehkan Rapor Positif, Lazio Segera Amankan Inzaghi

Pastinya, ada beberapa pertimbangan lain yang merekomendasikan sebaiknya sanksi untuk Man City jangan terlalu kejam. Di sisi lain, kredibilitas pemangku kepentingan di Inggris dipertaruhkan. Mendiamkan Man City akan meruntuhkan kewibawaan mereka. Ini pertimbangan lain dari sisi yang berseberangan.

Sangat menarik menantikan apa yang akan diterima Man City di Inggris nanti. Sanksi apa yang akan diberikan untuk Man City. Apakah Liga Primer dan FA akan menabrak semua pertimbangan dengan mengatasnamakan penegakan aturan atau berkompromi. Silakan ambil kesimpulan masing-masing.***

BERITA TERKAIT

D
BarC4!
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA