#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Sabet 7 Emas di ECL 2020, Aan Incar Tiket Youth Olympic Games
17 February 2020 06:04 WIB
JAKARTA - Muhammad Akbar Kurniawan makin matang. Rider asal klub Kurnia Stable menggenggam trofi terbanyak pada seri pertama Equestrian Champions League (ECL) 2020. Dia menggondol 7 kalungan medali emas dan 4 perak dari 12 nomor yang diikuti.

Rider berusia 16 tahun ini harapan masa depan olahraga berkuda Indonesia. Anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Ir. Fatchul Anas dan Ernawati Yohana ini tak pernah berhenti menggores prestasi.

Aan- sapaan akrab Muhammad Akbar- mengaku selalu berusaha tampil menjadi yang terbaik. Dia membuktikan dengan tiga kali podium pertama dan urutan kedua pada hari pertama Liga Berkuda Equestrian digelar, Jumat (14/2). Ketiga juara dibukukan dari nomor jumping 100cm, 110cm, dan 130cm. Sedangkan peringkat keduanya diraih dari nomor jumping 120cm team.


Baca Juga :
- Gelaran ECL Semakin Baik
- Bukan Hanya Rider, Kuda Juga Butuh Pengakuan

"Saya memakai 5 kuda dari 12 kelas yang saya ikuti. Pada jumping 100-110cm saya menunggang kuda Braveheart, 120cm (Malika), 130cm (Prince Zizou). Dua kuda lainnya dinomor Dressage yakni Asa Kurnia dan Camelias," kata Aan.

Pada hari kedua lomba di Equestrian Champions League (ECL) 2020, Sabtu (15/2), Aan sangat trampil di atas pundak Asa Kurnia dan Cemlias. Dia pun menjadi yang terbaik di nomor Dressage Priliminary dan Dressage Elementary. Tak hanya itu, dia juga mendapat dua perak dari Dressage dan Dressage Advance.

Aan mendapat score tertinggi 176.25 atau 65.278 persen di nomor Priliminary. Dia mengalahkan Jolfie Momongan (Simply Fantastic) dari Aragon Equestrian Sport yang mendapat nilai 62.685 persen. Tempat ketiga diduduki Aan Mihardja (Gamma Zacxobeat) dengan score 61.85 persen.

Tak berhenti sampai disitu. Aan terus menggurat pretasi manis di akhir terakhir, Minggu (16/2). Remaja kelas 1 SMU Al Azhar ini menambah dua pundi emas dan satu perak.

Kuda Braveheart yang sudah berumur 14 tahun memberi Aan sebagai yang terbaik di kelas jumping 100cm dan 110cm. Dia juga nyaris berada di puncak pada nomor Jumping 130cm. Sayangnya, Aan membuat empat kesalahan dan harus puas berada di posisi kedua.

Bukan mencari alasan, pacuan di Jakarta Internasional Equestrian Park Pulomas (JIEPP), sempat diguyur hujan deras selama 2 jam sebelum lomba Jumping 130cm digelar.

 "Agak kesulitan karena hujan yang turun, sehingga kudanya kurang fresh, dalam artian kudanya sedikit senang karena cuacanya dingin. Karena sedikit dingin, kudanya tidak fokus. Tapi Alhamdulillah bisa dapat juara dua," kata Aan, usai pertandingan.

Totalnya ia berhasil meraih tujuh emas dan empat perak dari 12 kelas yang diperlombakan selama seri pertama ECL 2020. "Satu-satunya medali yang gagal itu di kelas 120 cm Open," ungkapnya.

Dengan raihan tujuh emas dan empat perak di seri pertama, Aan pun mengaku optimis bisa menjaga performanya di lima seri tersisa. Meskipun dia tidak bisa mengikuti antara seri ketiga dan keempat nanti karena ada pelatihan di Jerman.

"Tapi saya optimis bisa menjadi juara di lima seri tersisa. Karena setiap peserta wajib mengikuti lima dan enam seri di ECL tahun ini," lanjut atlet yang juga tercatat sebagai pelajara Al-Azhar Kelapa Gading tersebut.


Baca Juga :
- Kalahkan Rider Senior, Aan Dipantau Stable Dunia
- Ketum Pordasi Kunjungi Liga Pacuan Kuda Tertua

Aan juga menambahkan ECL tahun ini sangat berguna bagi dirinya untuk menambah jam terbang. Apalagi seperti yang diungkapkan sang ayah, Fatchul Anas sang putra tengah dipersiapkan untuk berlaga di ajang Youth Olympic Games di Senegal 2022 mendatang.
Sebelumnya, Ketua Umum PP Pordasi, Triwatty Marciano mengatakan ECL 2020 memang merupakan ajang untuk mempersiapkan atlet-atlet muda yang punya potensi untuk berlaga di sejumlah event internasional.

"Persiapannya dari sekarang, saya berharap dia akan jauh lebih matang bisa berbicara di Youth Olympic Games nanti," tutur Fatchul Anas.*Suryansyah

BERITA TERKAIT

Penulis
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA