#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Baru Latihan di Arema, Saya Sangat Kaget dan Terheran-heran
04 February 2020 20:33 WIB
MALANG - Manajemen Arema tak membutuhkan waktu lama untuk  menggaet pemain kelahiran Montevideo, Uruguay 20 Januari 1992 ini. Matias Daniel Malvino Gomez dibawa oleh pelatih Mario Gomez untuk mengisi posisi bek tengah, setelah Arthur Cunha da Rocha dipinjamkan ke Persipura.

Jebolan Defensor Sporting Club Youth Academy U-20 itu, bersama dua rekannya yang asal Argentina:  Jonathan Jesus Bauman dan Elías Patricio Alderete, resmi menandatangani kontrak untuk satu musim, Kamis (30/1) lalu di Kantor Arema,  ‘Kandang Singa’ Jalan Mayjen Sungkono Kota Malang. Lalu, seperti apa kesan Malvino setelah bergabung dengan Arema? Berikut wawancara eksklusifnya bersama TopSkor:

 


Baca Juga :
- Sudah Memiliki 32 Pemain, Serigala Margonda Mulai Berlatih 6 April
- Terlalu Pagi Memasukkan Nama Malvino dalam Daftar Coret Arema

Bagaimana perasaan Anda pertama kali bermain di Asia?

Tentu saya sangat senang sekali, sebab sebelumnya saya lebih banyak di Amerika Latin dan Eropa. Saya sangat antusias ingin merasakan langsung seperti apa atmosfer liga di Asia. Apalagi saya merasa jenuh juga terlalu lama bermain di Uruguay, harus ada tantangan dan suasana baru.

Apa kesan pertama saat berlatih di Arema?

Sangat kaget dan terheran-heran, baru latihan saja yang menonton 5.000 ribu orang lebih. Padahal di klub lama saya Defensor Sporting Club di kompetisi Uruguayan Primera Division, setiap laga kandang rata-rata yang menonton hanya 5.000 paling banyak 10 ribu. Dulu waktu saya bermain di FC Lugano (Swiss Super League) penonton kandang hanya 3.000 orang saja. Luar biasa Aremania, saya tidak bisa membayangkan ketika kompetisi resmi nanti, berapa ribu penonton.

Apa yang Anda ketahui tentang Liga Indonesia?

Sebelummya saya sangat tidak paham seperti apa klub-klub dan kompetisi di Indonesia. Namun saya pernah dengar Arema ketika saya masih junior dan baru pertama bermain di Liga Profesional 2010. Saya ingat ada dua pemain Uruguay sukses di Arema, Esteban Guillen dan Cristian Gonzales.

Ketika ada tawaran untuk main bersama Arema, saya langsung buka youtube, lihat Liga 1 di Indonesia,  bagaimana tim Arema dan fannya Aremania. Sungguh luar biasa meriah dan fantastis, jauh bila dibandingkan dengan di Uruguay atau Swiss. Itu membuat saya tak banyak pikir untuk setuju ke Arema.

Siapa yang banyak memberikan gambaran tentang Arema FC?

Senior saya Esteban Guillen dia bilang ke saya untuk apa terlalu lama berpikir untuk  menerima tawaran bermain di Arema dan Indonesia. Dia banyak sekali perlihatkan ke saya foto-foto dan video tentang Arema, Aremania, dan Liga di Indonesia. Dia bilang Arema tim besar di Indonesia dan ada punya fans Aremania terbaik di Asia.

Bagaimana perasaan Anda sepekan bersama Arema?

Saya sangat senang, ternyata betul Arema tim besar di Indonesia, dan antusias Aremania lihat kami latihan juga besar sekali.  Pemain-pemain lokal Arema sangat bersahabat dan banyak membantu saya. Suasana tim bagus dan mereka membuat saya cepat betah di sini.

Soal adaptasi?

Tidak ada masalah, saya akan cepat beradaptasi. Soal komunikasi termasuk wawancara dengan media dan Anda, saya khan banyak dibantu (Jonathan) Bauman, karena dia sedikit bisa bicara Indonesia. Bauman yang banyak bantu saya untuk cepat adaptasi, ya soal komunikasi, makanan, dan hal-hal lain.

Apa target Anda di LIga 1 2020?

Tentu juara Indonesia 2020. Saya juga ingin melebihi sukses Esteban Guillen dan Cristian Gonzales.

Bagaimana tinggal Malang?

Saya suka Malang, kotanya tidak terlalu bising, tidak macet, dan sejuk. Saya jalan-jalan di mal dengan Bauman dan Elias (Elías Patricio), mereka selalu menyapa kami dan senyum. Mereka juga minta foto bersama. Di Uruguay atau Swiss saya tidak pernah alami seperti itu. Untuk makanan, saya belum bisa coba di sini, butuh waktu mungkin. Ada banyak makanan pedas, saya tidak bisa. 

Bagamaina soal coach Mario Gomez?

Dia pelatih bagus, dan banyak bantu saya di sini. Soal gaya melatih, saya pikir tidak ada masalah, karena style sepak bola dia sangat kental Amerika Latin.

Musim lalu Arema kebobolan 62 gol. Apa komentar Anda?


Baca Juga :
- Lima Duet Bek Terbaik Persija sejak Era ISL
- Ryan D'Masiv Kalah di Detik-detik Akhir Lelang Barang Riko Simanjuntak

Sepak bola itu olahraga tim dan bukan individu. Jadi soal Arema musim lalu kebobolan 62 gol, saya kira bukan tanggung jawab atau kesalahan pemain belakang saja, tapi itu juga tanggung jawab semua pemain di posisi berbeda.*M. B. MARZUKI/ NOVAL LUTHFIANTO

 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA