#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
PSSI Mendadak Mengubah Regulasi Liga 3, PSKC Jadi Runner-up Grup C
19 December 2019 11:03 WIB
BANDUNG – Tiada angin tiada badai, tiba-tiba kebahagian yang menyapa PS Kota Cimahi (PSKC) berubah jadi duka. Gelar juara Grup C babak 32 besar nasional, mendadak dicopot dan harus turun ke posisi kedua. PSKC dinyatakan sebagai runner-up dan harus bermain di Bantul saat melawan Persinga, Kamis (19/12).

Kondisinya, PSKC dan Persekat Tegal sama-sama mengoleksi enam poin hasil dua kemenangan dan sekali kalah. Adapun PSKC menggelontorkan sembilan gol dan empat kali kebobolan, sedangkan Persekat melesakkan lima gol dan dua kali kebobolan. Artinya, selisih gol ataupun produktivitas PSKC lebih unggul.

Bilapun regulasi kompetisi menggunakan sistem head to head, sekilas PSKC yang berhak menyandang gelar juara grup. Sebab, tim asuhan Robby Darwis itu unggul 2-1 atas Persikat. Namun, PSKC tunduk 0-1 dari Persibas Banyumas, yang juga mengoleksi enam poin, hasil dari dua kemenangan.


Baca Juga :
- Side Job Setop Dulu, Tantan Akui Kompetisi Terhenti Tidak Bisa Lagi Main Tarkam
- Dikritik DPR, Ketua Umum PSSI Minta Maaf dan Sebut Overlapping Kinerja Sekjen

Masalahnya, Persekat sebaliknya unggul 2-0 atas Persibas. Sehingga acuan head to head adaaj jumlah gol dan kebobolan pertemuan ketiganya ditambah dan dikurangi. Hasilnya, Persekat plus satu gol, PSKC nol gol, sedangkan Persibas minus satu gol. Hal inilah yang menjadi acuan dalam penentuan posisi di klasemen.

Manajer PSKC Eddy Moelyo, pun meradang. Pihaknya mengaku tidak bisa menerima dengan begitu saja kenyataan tersebut. Pasalnya, hanya dalam hitungan hari seusai menuntaskan laga terakhir babak grup, match commitioner PSSI menginformasikan bahwa Laskar Sangkuriang menjadi runner-up Grup C.

“Ini siluman. Suka-suka orang tertentu atau kumaha aing (terserah saya). Kami yang jadi juara grup tiba-tiba dinyatakan jadi runner-up. Selisih gol kami yang lebih besar dari Persekat Tegal diangap tidak ada. Selesih gol kami lima, sementara Persekat hanya tiga. Lho kok kami yang dinyatakan runner-up?” kata Eddy.

Kebingungan Eddy bertambah. Pasalnya, dalam regulasi pertandingan yang ia miliki, selisih gol dihitung untuk menentukan juara grup. Namun tiba-tiba regulasi tersebut ditiadakan. “Ini kan aneh. Kami bekerja keras menciptakan banyak gol, tapi akhirnya diabaikan," Eddy mengeluh.

Ironisnya, ketika persoalan ini dilaporkan ke Wakil Ketua Umum PSSI dan Direktur Pertandingan PSSI, tidak ada jawaban memuaskan. PSKC seperti berjuang sendiri mencari jawaban. “Lapor ke Asprov Jabar juga sudah kami lakukan untuk menyelesaikan persoalan yang aneh ini,” ujar Eddy.


Baca Juga :
- Efek Kompetisi Disetop, Lord Atep Belum Terima Gaji dari PSKC Cimahi
- Kisah Nur Coyo, Striker Legenda Persip sang Penakluk Api dan Tawon

Tetapi, sembari berusaha mencari keadilan,  PSKC tetap menghormati keputusan tersebut. Mereka tetap berangkat ke Bantul, namun dalam keadaan yang kurang ideal. Dalam tur ke Bantul, tim terbagi dalam dua kloter. Ada yang berangkat menggunakan bis kecil, dan sebagian menggunakan kereta api.

“Karena baru dikabarkan Selasa (15/12), kami kesulitan mendapat bus besar untuk ke Bantul. Terpaksa sebagian pemain berangkat malam kemarin pakai bus kecil, sebagian lainnya pagi tadi (kemarin) pakai kereta. Di sana, belum tentu kami main. Karena kami sedang mempersiapkan protes," Eddy menjelaskan.*

BERITA TERKAIT

news
Pejalan kaki untuk gunung-gunung tropis Indonesia. Mencintai sastra, fanatis timnas Garuda, dan sedang aktif di sepak bola usia dini. Anak pertama dari tiga bersaudara.
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA