#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Neymar, Dikagumi sekaligus Dibenci
09 December 2019 15:00 WIB
MONTPELLIER – Tidak ada yang berubah dari Neymar Junior. Meski sempat lama absen karena cedera musim ini, bintang asal Brasil ini tidak sampai kehilangan ketajamannya. Pada saat yang sama dia juga masih lekat dengan sikapnya yang arogan. Semua itu tersaji lengkap dalam kemenangan 3-1 Paris Saint Germain atas tuan rumah Montpellier HSC di Stade De La Mosson, Sabtu (7/12).

Neymar menginspirasi kebangkitan PSG yang sempat kebobolan lebih dulu di babak pertama. Dia mencetak gol spektakuler dari tendangan bebas di menit ke-74 untuk menyamakan skor. Dua menit kemudian, winger 27 tahun ini memberikan assist yang dikonversi oleh Kylian Mbappe jadi gol kedua Les Parisiens sebelum gol Mauro Icardi memastikan kemenangan mereka.

Dengan demikian, Neymar selalu mencetak gol dalam dua pertandingan terakhir. Secara keseluruhan, mantan pemain FC Barcelona ini telah membukukan enam gol dalam hanya delapan pertandingan di Ligue 1 musim ini. Catatan ini hanya kalah dari Mbappe dan Icardi yang masing-masing telah mencetak tujuh gol.


Baca Juga :
- Arsenal Sepakat dengan Bek Kiri PSG Ini
- Ini Pendapatan Barcelona, Kalahkan Madrid, MU, PSG

Kepiawaiannya dalam memainkan bola dan mencetak gol inilah yang membuat Neymar dikagumi. Tapi, dia juga menjadi salah satu sosok yang paling dibenci di dunia sepak bola lantaran kebiasaannya memprovokasi lawan lewat trik-trik yang berlebihan dan melakukan diving.

Itu pula yang beberapa kali dilakukan Neymar lawan Montpellier. Ulahnya tersebut membuat gerah striker La Paillade, Andy Delort. Pemain Aljazair ini pun langsung menghampiri Neymar seusai pertandingan untuk mengungkapkan kekesalannya sehingga keduanya terlibat adu mulut.

“Neymar? Dia pemain hebat,” ujar Delort. “Tapi, sangat disayangkan bahwa di menit-menit akhir dia merasa harus melecehkan semua orang. Dia pemain hebat, semua orang menghormatinya. Tapi, kita tidak perlu meledek lawan saat sudah unggul 3-1. Itu yang saya katakan kepadanya.”

Delort menambahkan bahwa ketika seseorang diidolakan, dia harus menunjukkan nilai-nilai yang baik. Sikap inilah yang tidak pernah diperlihatkan Neymar sejak dia tiba di Prancis dua tahun yang lalu. “Dia merasa di atas angin, suka meledek orang dan bicara kasar seperti biasa,” katanya.

Terlepas dari kekesalannya terhadap sikap Neymar, Delort mengaku tetap mengagumi kehebatan pemain termahal di dunia tersebut. Kekaguman yang sama juga berlaku buat Mbappe. Keduanya mampu membawa PSG bangkit dari ketertinggalan hingga berbalik menang.

“Apa yang kalian ingin saya katakan (soal kehebatan Neymar)?” kata Delort kepada wartawan. “Ada tendangan bebas dan Neymar menempatkan bola di pojok atas gawang. Kemampuan itulah yang membuatnya jadi pemain hebat. Mbappe juga begitu. Padahal, sebelum menit ke-74, keduanya nyaris tidak berbuah apa-apa di lapangan. Itulah sebabnya kenapa mereka bermain di klub sebesar PSG dan saya di Montpellier.”

Kritik terhadap sikap Neymar juga dilontarkan pelatih Montpellier, Michel Der Zakarian. Selain arogan, pelatih berdarah Armenia itu juga menyebut Neymar sebagai sosok yang penuh drama. “Dia punya kebiasaan memprovokasi lawan lewat aksi dribelnya. Saat dia tersentuh sedikit saja, dia langsung meringis kesakitan,” ujarnya.

Berbeda dengan kubu Montpellier, pelatih PSG, Thomas Tuchel, hanya punya kata-kata pujian buat Neymar. Pria asal Jerman ini bahkan menyebut mantan pemain Santos FC sebagai pahlawan kemenangan Les Parisiens di Stade De La Mosson bersama Mbappe.

“Neymar dan Mbappe? Keduanya sempat mengalami saat-saat sulit karena mereka sering absen musim ini,” kata Tuchel. “Keduanya baru mulai kembali bermain bersama musim ini. Di sini Kylian lebih mengalami kesulitan sementara Neymar, yang lebih berpengalaman, menunjukkan respons yang luar biasa dalam atmosfer sulit. Pada akhirnya, mereka membawa kami meraih kemenangan.”


Baca Juga :
- Neymar Soroti Pertahanan Usai PSG Ditahan Monaco
- Inter-Parma Salaman untuk Darmian, Bisa Datang Januari atau Juni Tergantung Sikon Ini

Ini kemenangan keempat beruntun yang diraih PSG di Ligue 1. Tren positif ini membuat mereka semakin kokoh di puncak klasemen dengan 39 poin dari 16 pertandingan. Les Parisiens unggul delapan poin atas Olympique Marseille yang membuntuti di peringkat kedua.

Dominasi PSG di kompetisi elite Prancis ini juga terlihat dari jumlah gol yang mencapai 35 gol atau rata-rata 2,18 gol per laga. Rival terdekat mereka adalah tim peringkat kelima, Girondins Bordeaux, yang membukukan 27 gol dalam 16 pertandingan.* Rijal Alfurqon

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA