#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia


Ujian Baru Lu-La
09 December 2019 12:36 WIB
MILAN – Setelah mencetak gol dalam 19 laga beruntun, FC Internazionale kehilangan ketajaman untuk kali pertama sejak ditangani Antonio Conte. Jumat (6/12), Romelu Lukaku dan kawan-kawan tidak mampu menembus pertahanan ketat AS Roma dan harus puas bermain imbang tanpa gol di Stadio Giuseppe Meazza. Beruntung, mereka masih bisa mempertahankan capolista Seri A karena sehari kemudian, rival utama Juventus FC juga tersungkur oleh SS Lazio di Olimpico.

Jadi, untuk sementara, posisi inter di puncak klasemen aman dari gangguan. Sekarang, pasukan Conte harus segera mengalihkan fokus kepada duel penentu Liga Champions versus FC Barcelona, Selasa (10/12). Namun, untuk menuntaskan misi, Inter butuh kekuatan maksimal dari lini depan: Lukaku dan Lautaro Martinez. Maklum, lawan Roma, dua striker itu melakukan banyak kesalahan di pertahanan lawan. Mereka mendapat sejumlah peluang, tapi tak mampu menceploskan bola ke gawang lawan.

Jika kecerobohan serupa diulangi melawan Barca, I Nerazzurri harus siap mengucap selamat tinggal kepada kasta elite Eropa. Lukaku dan Lautaro atau yang kini dikenal dengan Lu-La, tumpuan gol Inter sejak awal musim, terutama sejak Alexis Sanchez mengalami cedera. Selama itu, mereka selalu mampu memberi jawaban bagus: total 24 gol dalam 20 pertandingan.


Baca Juga :
- Andrea Pirlo dan Morata Ternyata Sudah Bertemu dalam Liburan Awal September Ini
- Pemain Baru Juventus Ini Dinilai Memiliki Kemampuan seperti Edgar Davids

Tapi saat menjamu Roma, irama tersebut seolah menghilang. Mungkin akibat kelelahan setelah bermain terus-menerus tanpa istirahat. Dalam 11 pertandingan terakhir di semua kompetisi, Lukaku telah tujuh kali tampil penuh 90 menit. Sisanya, digantikan ketika laga memasuki paruh akhir. Jadi, penyerang timnas Belgia itu tak pernah benar-benar mendapatkan waktu pemulihan yang cukup. Hebatnya, Lukaku tetap bisa berkontribusi maksimal dengan delapan gol (dua kali doppietta melawan US Sassuolo dan Bologna FC).

Lautaro tidak jauh berbeda. Dalam periode yang sama, pemain asal Argentina itu enam kali bermain sampai peluit akhir. Minimnya, opsi di lini depan membuat Conte tak punya pilihan selain memaksakan dua penyerangnya sampai batas maksimal. Lautaro pun menjawab dengan kepuasan: 9 gol ke gawang lawan (dua brace versus Sassuolo dan SK Slavia Praha). Dia mencetak gol dalam tiga laga beruntun sebelum terhenti di hadapan Roma.

Dari 40 gol yang dilesakkan Inter antara Seri A dan Liga Champions, lebih dari separuhnya datang dari aksi Lukaku dan Lautaro. Pasangan itu tampil bersama dalam 1.299 laga kompetitif, dan selama itu, Inter berhasil mencetak 29 gol. Bandingkan bila salah satu di antara mereka tak berada di lapangan: hanya 11 gol dalam 622 menit.

Jadi, saat menjamu Barcelona, Lukaku dan Lautaro wajib memperlihatkan kemampuan terbaik. Pada pertemuan pertama di Camp Nou, Inter tumbang karena Lautaro berjuang sendiri tanpa Lukaku yang cedera punggung. Kini, duet Lu-La sudah bisa main dari menit pertama, peluang tentunya jadi lebih besar. Asal, mereka bisa bangkit dari performa mengecewakan versus Roma.

Harapan Conte

Tumpulnya lini serang Inter tentu mendapat perhatian dari Conte. Sang pelatih tak puas dengan aksi pemain dan beberapa kali terlihat berteriak marah. Dia tahu, performa di bawah standar macam itu takkan bisa menyaingi superioritas Barcelona.

“Apa artinya bermain bagus tanpa gol? Kami harus bisa memasukkan bola ke gawang karena lini pertahanan sudah menjalankan tugas dengan baik. Mulai sekarang, kami harus lebih sinis,” kritik Conte. Khusus  buat Lukaku dan Lautaro, allenatore berusia 50 tahun itu menilai keduanya “tertidur” sepanjang laga. Mungkin butuh sedikit tamparan agar bisa terjaga kembali kontra Barca.


Baca Juga :
- Cetak Dua Gol Masih Tidak Senang, Ibrahimovic: Jika Saya Berusia 20 Tahun Bisa Tambah Dua Lagi
- Stefano Pioli soal Kemenangan Milan atas Bologna: Kami Menyerang dengan Intensitas yang Tinggi

Conte juga berharap publik Meazza memberi dukungan penuh kepada tim, tidak seperti kemarin. Melawan Roma, sekelompok tifosi justru mencibir pemain sendiri ketika melakukan kesalahan. Ini sikap tidak benar, bisa meruntuhkan mental dan merusak permainan. “Pada momen krusial ini, saya ingin semua bersatu, jangan ada hal negatif. Kami tahu, tak mudah main di Meazza, para pemain harus dibantu,” katanya.*** Dari berbagai sumber

 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA