#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Ini Bukan Periode Terburuk Ronaldo
14 November 2019 16:26 WIB
TURIN – Manusia planet sekarang seperti manusia biasa. Musim ini, Cristiano Ronaldo kehilangan sentuhan magis di kotak penalti. Striker Juventus FC itu juga menunjukkan gelagat buruk ketika diganti oleh Maurizio Sarri, dalam pertandingan versus AC Milan akhir pekan lalu. Sepertinya luapan emosi itu merupakan akumulasi dari kekecewaan atas kemunduran dalam karier.

Menurunnya level kinerja CR7 dipicu kelelahan fisik, kesulitan berlatih, cara menyerang baru yang diminta oleh Sarri. Pastinya ini adalah krisis pertama penyerang 34 tahun itu bersama I Bianconeri meski tidak mengkhawatirkan. Klub memaafkan bahasa tubuh dan makiannya terhadap Sarri. Ronaldo sudah memikirkan cara untuk segera bangkit di Seri A dan merebut lagi kepercayaan pemimpin klub.

Jeda kompetisi sejenak menjauhkannya dari polemik di Juve. Sebab dia harus fokus memperkuat serangan tim nasional Portugal. Ronaldo dipaksa untuk lebih memerhatikan fisiknya. Apalagi dia tidak ikut latihan kolektif sejak duel Juve versus Genoa, 30 Oktober silam.


Baca Juga :
- Diskusi Bonucci dan Ultras Viking di WhatsApp Terungkap Polisi
- Maurizio Sarri Sebal Ballon d'Or Messi Lebih Banyak daripada Ronaldo

Bagaimanapun tak bisa dipungkiri, periode negatif pernah dialami setiap pesepak bola. CR7 menyelesaikan musim lalu dengan rata-rata 0,7 gol per pertandingan, sementara di musim ini rata-ratanya turun sampai 0,5 gol. Di tahun lalu menciptakan gol setiap 128 menit, sementara kali ini dibutuhkan 173 menit.

Namun, data itu tidak cukup jadi acuan untuk menuding pemain terus mengalami kemunduran. Perlu melihat berbagai indikator prestasi Ronaldo dalam beberapa tahun terakhir. Pergantian pola permainan dari Massimiliano Allegri dengan Maurizio Sarri, juga berpengaruh. Di bawah asuhan pelatih baru, Ronaldo hanya memainkan lebih sedikit bola di dekat gawang lawan. Bertolak belakang dengan Allegri yang menginginkan para pemainnya memadati area penalti.

Jadi komparasi tidak bisa dilakukan untuk dua musim terakhir saja. Perlu ditarik lagi lebih ke belakang ketika dia membela Real Madrid. Dalam 10 penampilan pertama Seri A musim ini, Ronaldo mencetak lima gol, sementara musim 2017/18, ayah empat anak itu hanya menghasilkan dua gol. Namun pada akhirnya, attaccante tersebut menutup musim di La Liga dengan 26 gol.

Kemarin di Lisbon bersama rekan-rekan di tim nasional, Ronaldo memperlihatkan senyuman sebelum mempersiapkan pertandingan penting. “Saya kembali,” tulisnya di Instagram Story, berguna untuk menepis semua keraguan mengenai penampilan dalam dua pertandingan berikutnya.


Baca Juga :
- Dybala Marah Ditarik Keluar, Begini Reaksi Sarri
- Conte Sudah Bagus, tapi Masalah Inter Adalah Juventus

Peraih lima Bola Emas tersebut sudah berlatih dengan rekan-rekan dan siap menghadapi Lituania dan Luksemburg. Masalah pada bagian lutut kanan tidak parah dan bisa dibereskan. Oleh karena itu, dia  mesti menyarangkan gol untuk mengembalikan irama permainannya sendiri. Karena setelah kembali ke Turin nanti, Ronaldo harus berhadapan dengan Atalanta BC di Bergamo, bukan pertandingan paling mudah di Seri A.

Ketika kinerja CR7 menurun, Sarri tidak cemas karena berhasil memulihkan Paulo Dybala secara tepat waktu. Striker asal Argentina menemukan momentum untuk kembali mencuri panggung. Pemain nomor 10 itu mungkin saja berdampingan dengan Ronaldo atau Il Pipita. Solusi lain, pemain dapat berdiri di belakang pasangan tersebut. Saat ini, pemain nomor 10 itu telah mengolah bola sebanyak  60 persen dan di zona 35 meter. Di tahun lalu, hanya mencapai 45 persen.* Dari berbagai sumber

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA