#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia


Sarri Keras Kepala
30 August 2019 14:27 WIB
TURIN – Kegigihan Sinisa Mihajlovic mengalahkan penyakit kanker darah dan tetap mendampingi Bologna FC, rupanya menginspirasi banyak orang. Salah satunya adalah Maurizio Sarri. Pelatih Juventus FC  yang kini mengidap paru-paru basah itu berusaha untuk meningkatkan staminanya sehingga dapat berdiri di samping tim dalam duel lawan SSC Napoli, di Allianz Stadium, Sabtu (31/8) atau Minggu dini hari WIB.

Itu bukan pertandingan biasa mengingat rivalitas yang mengakar antara kedua klub. Sarri sadar akan jadi sasaran caci maki suporter tim tamu karena pernah menangani Il Partenopei, periode 2015-2018.

Meski disarankan untuk rehat, Sarri keras kepala dengan datang ke Continassa. Dia memantau latihan tim dari monitor di kantornya. Di samping itu, selalu meminta laporan untuk setiap sesi dari para stafnya. Tentu saja sensasi ketika mengamati latihan di luar dan di dalam lapangan sangat berbeda, apalagi dia terbiasa merasakan pertandingan.


Baca Juga :
- Alvaro Morata Resmi Diperkenalkan Juventus, Sejumlah Suporter Malah Mengkritik Transfer Ini
- Tak Pernah Bertahan Lebih dari 2 Musim di Klub yang Sama, Total Nilai Transfer Alvaro Morata Sepanjang Kariernya Mencapai Rp 3,5 Triliun

Jadi sekarang semua tergantung Sarri, bagaimana allenatore keras kepala itu mengurangi rokok dan menjalani terapi pemulihan. Meski hasil pemeriksaan beberapa hari ini berkembang ke arah yang diinginkan, tapi belum pasti dokter akan memberikan lampu hijau.

Duel Juve-Napoli sudah biasa dipertandingkan tapi yang membuat laga kali ini istimewa adalah Sarri merupakan pelatih terakhir Seri A yang sukses meruntuhkan benteng Allianz Stadium. Pertemuan yang terjadi 22 April 2018 ditentukan oleh gol Kalidou Koulibaly.

Sejauh ini statistiknya keberuntungan berpihak kepada I Bianconeri. Sejak dibuka pertama kali 8 September 2011, mereka hanya kalah 4 persen di kandang atau 5 dari 152 laga. FC Internazionale adalah penakluk perdana pada November 2012, lalu UC Sampdoria pada Januari 2013, Udinese Calcio pada Agustus 2015, SS Lazio di Oktober 2017 dan terakhir Napoli asuhan Sarri yang mengacaukan keinginan Juve mengunci Scudetto lebih cepat.

Tidak ada satu klub dari lima kompetisi top Eropa yang mencatatkan prestasi sebaik itu sejak musim 2011/12. Yang paling mendekati adalah Paris Saint Germain dengan 5 persen kegagalan dari 154 laga kandang, lalu FC Barcelona dengan 5 persen tapi 153 duel. Bayern Muenchen membukukan 6 persen dalam 137 partai di Bundesliga.

Jika horizonnya diperluas, Stadium tetap yang terkuat meski laga Eropa dan Piala Italia dihitung. Total Giorgio Chiellini dan kawan-kawan total bermain di hadapan publiknya sebanyak 207 kali. Hasilnya 79 persen menang, 16 persen seri dan 5 persen takluk.


Baca Juga :
- Bek Juventus Ini Jadi Target 2 Klub Liga Inggris
- Andrea Pirlo dan Morata Ternyata Sudah Bertemu dalam Liburan Awal September Ini

Mimpi paling buruk terakhir dialami lawan Ajax, pada 16 April, di perempat final Liga Champions. Kalau melihat bagaimana perjalanan skuat asuhan Massimiliano Allegri di Seri A 2018/19, mereka gemilang: tidak pernah kalah, 4 hasil imbang (lawan Genoa CFC, Parma Calcio, Torino FC, Atalanta BC) dan 15 sukses, di antaranya skor 3-1 lawan Napoli. Pasukan Carlo Ancelotti dihentikan oleh dobel gol Mario Mandzukic dan Leonardo Bonucci.

Ketangguhan Stadium tak lepas dari struktur bangunan. Stadion tidak memiliki kapasitas besar dan jarak antara tribun dengan lapangan sangat dekat. Sehingga tim bisa merasakan gairah dan dukungan tifosi yang menstimulus mereka.* Dari berbagai sumber

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA