#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia


Rencana Dinamit Conte
29 August 2019 13:57 WIB
MILAN – Antonio Conte mempersilakan para pemainnya merayakan kemenangan besar FC Internazionale atas US Lecce pekan lalu. Namun, pelatih juga mewanti-wanti mereka supaya kembali fokus dalam pertandingan lawan Cagliari Calcio ketika hari berganti.

Arsitek tim berusia 50 tahun tersebut tak mau membuang waktu. Sebab dia ingin menambah lagi koleksi scudetto bersama tim berbeda, setelah sebelumnya mengumpulkan tiga trofi dengan Juventus FC. Rasanya sangat memuaskan kalau Conte dapat merebut gelar dari mantan timnya.

“Karena tim ini tidak boleh hanya menjadi percikan tapi dinamit. Tim-tim lain harus tahu berhadapan dengan siapa,” ujar Conte. Pelatih pun menyusun rencana dinamit untuk membentuk grup yang sangat antusias. Dia tampak selalu bersemangat di setiap sesi latihan, berusaha membuat anak buahnya agar mengerti dampak kerja keras. Semua harus berkeringat dan disiplin dalam mempelajari taktik.


Baca Juga :
- Inter Tawarkan Eriksen dan Brozovic Demi Kante, tapi Chelsea Menolak Karena Masa Lalu Conte
- Ejek Conte Soal Rambut Palsu, Banega Akhirnya Minta Maaf

Sukses di pertandingan pertama menjadi landasan untuk menapaki podium tertinggi. Dari duel lawan Lecce, Marcelo Brozovic dan kawan-kawan menemukan motivasi. Mereka haus akan kemenangan. Tim mulai kompak lagi karena jarak antara pemain senior dengan junior atau yang baru sudah terpangkas.

Contoh yang nyata, striker Romelu Lukaku mencari pemain paling muda, Sebastiano Esposito untuk merayakan gol perdananya di Italia. Antonio Candreva bangkit setelah sekian lama terpuruk di bangku cadangan. Dia tak pernah tampil sebagai starter dalam laga kandang Seri A sejak Februari.

Semakin kokoh dasar yang dibentuk maka semakin tinggi tujuan yang bisa dicapai. Conte menetapkan aturan lama di ruang ganti sejak hari pertama bertemu anak buahnya. Pelatih itu memoles setiap individu dari sisi teknik maupun kepribadian.

Dia menentukan pakem taktik untuk musim ini. Formasi 3-5-2 sebagai acuan, yang bisa dikembangkan menjadi 4-2-4. “Karena dengan cara seperti ini, tim menyerang dengan lebih banyak pemain,” ujarnya. Sudah seharusnya lawan takut karena tidak akan mendapat banyak peluang dari Inter saat fase bertahan. Satu hal yang pasti: I Nerazzurri telah meninggalkan ide tiki taka yang diinginkan Spalletti. Sekarang tim main vertikal, langsung menuju gawang.


Baca Juga :
- RESMI: Conte Tetap di Inter Musim Depan
- Antonio Conte Marah Diejek Rambut Palsu, Tantang Ever Banega Berkelahi

Kemudian ada teknik. Inter telah meningkatkan kualitas permainan. Lukaku adalah penyerang yang dari segi karakteristik tidak bisa menjadi seorang Mauro Icardi: disini tidak dibicarakan gol melainkan karakteristik. Attaccante  yang baru bergabung dari Manchester United FC itu menahbiskan diri sebagai raja debut. Dia menciptakan gol di laga perdananya dengan Anderlecht, West Bromwich Albion, Everton dan MU, sebelum mempersembahkan gol untuk I Nerazzurri.

Conte pun memasangkan Stefano Sensi-Marcelo Brozovic untuk meningkatkan tembakan dari luar kotak penalti. Ide untuk membangun permainan dari belakang, dilakukan dengan pintar sambil membatasi risiko selalu ada dalam benak tecnico itu. Pelatih punya pekerjaan rumah memperbaiki kondisi atletik, menemukan irama permainan yang konstan terutama dalam fase pressing. Pergerakan pertahanan yang serasi juga sangat fundamental.* Dari berbagai sumber 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA